Pages







Selasa, 08 Mei 2012

Kemanakah Budaya Malu Itu?


Kemanakah Budaya Malu Itu?
 
Seiring berjalannya waktu banyak perubahan-perubahanpun turut mewarnainya, tetapi masalahnya adlah bukanlah perubahan baik yang berkembang melainkan hal-hal negatiflah yang semakin hari semakin kita anggap sesuatu yang lumrah, hal tersebut disebabkan oleh doktrin-doktrin yang mengarahkan kita kepada hal yang tidak benar tetapi dengan mudah kita menelannya sehingga paradigma kitapun berubah melumrahkan hal-hal negative tersebut, salah satu contohnya adalah pandangan tentang orang yang merokok itu keren, dan bukanlah seorang lelaki jika tidak merokok. Tentunya hal itu sepenuhnya tidak benar tetapi banyak orang yang sudah menganggap pernyataan tersebut benar.

Tak bisa kita pungkiri hal tersebut juga mulai menyerang tanah kelahiran kita, jikalau kita mau berpikir dan membuka mata lebih lebar tentulah banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang dapat kita lihat, kita mulai saja dari perempuan, saat ini banyak dari mereka yang “menjual murah” dirinya dengan mempertontonkan aurat (baca: rambut dan lekuk tubuh) tidak hanyaa disekitar rumah tetapi sudah berani juga untuk memberikan pertunjukan gratis sampai ke luar desa, bukankah Allah memberi keindahan itu untuk kita berikan kepada mahram kita nanti? Selain itu doktrin bahwa tidak punya pacar itu tidak gaul membuat  mereka mengejar laki-laki bukanlah malah dikejar laki-laki dan setelah mereka jadian mereka juga akan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya untuk dilakukan, naudzubillah. Satu hal lagi yang ingin saya soroti adalah kata-kata kotor yang sering muncul di status facebook mereka, padahal mereka diciptakan Allah untuk menjadi makhluk yang lemah lembut di dunia ini. 

 selain perempuan kaum adam pun juga sudah mulai sombong akan kekuatan yang ia miliki sehingga dengan sedikit saja benturan perkelahian, tawuran akan terjadi, come on guys ini bukan hutan hukum rimba tak berlaku, selain itu kebiasaan ‘mbleyer’ sebagai ajang untuk menunjukkan keberanian pun marak sekali dilakukan dan sering menimbulkan pertikaian dan entah kenapa hal itu malah disukai oleh para remaja. Selain itu kebiasaan untuk berkelompok dan membuat geng pun menambah kenakalan itu karena dengan hal itu kekuatan lebih pun dapat didapatkan dan sering sekali juga disalah gunakan, hal ini mengingatkanku pada film ‘freedom writer’ yang didalamnya mengisahkan fenomena geng yang terjadi pada tahun 70an di Amerika (kapan majunya Indonesia jika saat ini kita baru mengalami masa 70annya Amerika?)

yah itulah sedikit yang ingin saya ungkapkan, dan percayalah itu benar-benar terjadi di desa kita dan banyak pula adik-adik kita terkena penyakit tersebut. Satu pertanyaan yang membesit dalam hati saya adalah “masih adakah budaya malu dikalangan remaja kita?” tentunya kita tidak boleh tak acuh menghadapi fenomena tersebut, kita sebagai orang yang terdidik semestinya bisa memberi tauladan bagi mereka dan menuntun mereka supaya kehidupan kedepan masyarakat dan Negara kita semakin baik.

Fastabihul khairat!